Selasa, 24 Januari 2012

bisnis sampingan petani coklat

BISNIS SAMPINGAN PETANI KAKAO
Saat ini , petani kakao di sentra-sentra penghasil kakao  bisa mengembangkan bisnis baru yang menghasilkan tambahan penghasilan riil yang lumayan untuk menopang pendapatan mereka yang menurun akibat berkurangnya produktifitas tanaman kakao mereka. Bisnis yang bisa mereka kembangkan adalah jual beli kulit kakao dan memproduksi kompos yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman kakao tersebut.
Kompos merupakan bisnis yang menguntungkan bagi petani kakao karena dengan menggunakan kompos biaya pemupukan lahan bisa menurun hingga 50 persen lebih rendah dibandingkan pemupukan dengan pupuk kimia. Atas dasar itu, permintaan kompos bisa sangat tinggi di masa depan.
Meskipun dihasilkan oleh petani dan digunakan oleh petani kakao lain, kompos masih menjanjikan sebagai sebuah peluang usaha karena tidak semua petani kakao yang rajin membuat kompos sendiri. "Lama kelamaan pupuk kimia bisa saja ditinggalkan karena harga pupuk kimia, seperti urea, SP36, KCL, dan NPK sudah sangat tinggi/
contohnya seorang petani bisa menghasilkan kompos yang dihasilkan dari biji kakao sebanyak 40 ton dalam dua bulan. Harga jual kompos ditingkat petani mencapai Rp 500 per kilogram. Itu adalah harga promosi, sehingga lama kelamaan harganya bisa meningkat.

Untuk memproduksi kompos, harus menerima pasokan bahan baku dari petani kakao lain, yakni kulit kakao misalnya dengan menerima kulit kakao dari petani dengan memberikan uang lelang sebesar Rp 3.000 per karung (berkapasitas 50 kilogram).
"Meskipun hanya menjual Rp 500 per kilogram, dan harus memberikan uang keringat pada setiap petani yang menjual kulit kakao sebesar Rp 3.000 per karung, masih bisa mendapatkan untung. Untuk menghasilkan kompos 40 ton, harus mengeluarkan modal Rp 10 juta, tetapi dengan menjualnya pada harga Rp 500 per kilogram, kami masih mendapatkan Rp 20 juta , artinya penghasilannya adalah dua kali.


Cara membuat kompos dari kakao
Alat dan bahan :
Sekop
Kain terpal
 Orgadek dengan bahan aktif 
Trichoderma sp.
Cytophagasp.
Papan 
Limbah Kakao 603 kg

Proses Pembuatan :
1.Limbah kakao dipotong-potong hingga homogen berukuran lebih kurang 2 cm
2Campurkan potongan limbah kakao dengan Trichodhermasp. Dan Cytophagasp., sebanyak 1,25% (v/v)., kemudian diaduk dengan limbah kulit buah kakaosebanyak 100 kg sampai merata.3.
 Inkubasikan selama satu bulan atau sampai kandungan C/N antara 10 – 20, ataukompos sudah terlihat berjamur dan kering dan tidak berbau. Inkubasi terjadi pada cetakan papan yang dilapisi kain terpal.4.
 Selama masa inkubasi, suhu harus di atas 70 C

Cara lain
Peralatan antara lain:
parang/sabit, embar/bak platik untuk menampung air, ember untuk menyiram, plastik penutup, tali, sekop garpu/cangkul, dan cetakan kompos (jika diperlukan).
Platik penutup dapat menggunakan plastik mulsa yang berwarna hitam. Belah plastik tersebut sehingga lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik disesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dikomposkan.
Cetakan kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu. Cetakan ini terdiri dari 4 bagian terpisah, dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1 x 1 m.
Lokasi Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat
sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Pelilihan lokasi ini akan menghemat biaya
transportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. Karena
apabila jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan.

Aktivator Pengomposan
Aktivator yang digunakan adalah Promi atau OrgaDec. Jika aktivator pengomposan sulit
diperoleh dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk mempercepat proses
pengomposan.
Tahapan Pengomposan
1. Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan menggunakan parang atau dengan mesin pencacah.
2. Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
3. Pemasangan cetakan.
4. Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis. Tinggi lapisan kurang lebih seperlima dari tinggi cetakan. Injak-injak bahan tersebut agar memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
5. Dalam setiap lapisan siramkan aktivator pengomposan.
6. Setelah cetakan penuh, buka cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik.
7. Ikat tumpukan tersebut dengan tali.
8. Inkubasi selama 1,5 sampai 2 bulan.

BISNIS SAMPINGAN  LAINNYA
Usaha pembibitan kakao
Dengan mengembangkan usaha pembibitan kakao maka bisa menjadi usaha sampingan bagi warga, selain bertani maupun beternak.
mengembangkan usaha pembibitan kakao karena bisa dilakukan dalam waktu sela. Kemudian, bisa juga menambah penghasilan keluarga
Dengan banyaknya pemesanan bibit kakao dari luar daerah terdorong untuk semakin membudidayakannya.
Bibit kakao yang dibudidayakan warga, selain digunakan untuk perkebunan sendiri juga dipasarkan keluar daerah.
“Usaha pembibitan kakao memang cukup menjanjikan, sebab permintaannya masih tetap tinggi,”
Apalagi, lanjutnya, kondisi curah hujan yang termasuk tinggi saat ini sangat mendukung dalam usaha pembibitan kakao, sebab tanpa disirami oleh pemiliknya maka bibit kakao akan tetap tumbuh.
Adapun harga bibit kakao, antara lain untuk bibit kakao jenis lokal berumur enam bulan yakni Rp3.000 per batang dan bibit kakao hibrida umur enam bulan dijual seharga Rp9.000 per kg.
Sementara harga biji kakao saat ini termasuk stabil, diantaranya biji kakao asalan berkisar Rp15.000-Rp16.000 per kg dan biji kakao kering berkisar Rp20.000-Rp21.000 per kg.
Stabilnya harga biji kakao saat ini juga mempengaruhi minat warga untuk menekuni usaha perkebunan kakao

Tidak ada komentar:

Posting Komentar